Minggu, 15 November 2015

SUNRISE DI BUKIT SI KUNIR

Jika membayangkan bagaimana bentuk bukit Si Kunir, pasti yang pertama kali yang ada dibenak kalian bahwa bentuk bukit itu seperti bentuk kunir ataukah kunyit jika dalam bahasa Indonesia. Kau akan membayangkan bagaimana bentuknya? Bagaimana bentuk kunyit itu... Ya bentuknya seperti tanaman Jahe merupakan jenis rempah-rempahan yang ada di wilayah Asia Tenggara dan jika dikupas berwarna kuning. Namun, bukan seperti itu bentuk dari bukit si kunir. Bukit si kunir, bentuknya seperti bukit-bukit pada umumnya. Bukit ini dinamakan bukit si kunir, sebab warna langit ketika pagi hari berwarna kuning. Orang bilang sunrise. Aku sangat menikmati suasana bukit si kunir di pagi, tidak hanya keindahan sunrise di pagi hari. Namun, ada kisah bahagia, kisah sedih di sebalik bukit sunrise. Itu tentang aku dan Hanan. Kisah cinta yang dimulai dari bukit si Kunir. Zaman kuliah, sekitar empat tahun yang lalu. Aku dan Hanan, melaksanakan kegitan pengabdian masyarakat di desa Sembungan, desa yang ada di bawah Bukit ini. Kami cukup dekat waktu itu, setiap ada kegiatan Hanan selalu memilih berkelompok dengan ku. Suatu malam, dengan kabut yang begitu tebal, dengan angin malam yang begitu dingin hingga menelusup ke pori-pori tubuhku, Hanan mengajakku ke luar. “ Kita ke luar yuuk Er” Ajak kak Hanan “Ke mana?” Tanyaku Heran. “Ke suatu tempat yang Indah” “Bagaimana ya” Aku menggaruk-garuk kepalaku, digin yang menyekat membuatku bermalas-malasan untuk melangkah. Hanan tiba-tiba saja, memakaikan aku syal tebal ke leherku. Aku Hanya melongo saja. Ia memegang erat tanganku, “Tak usah banyak pikir ikut saja” Kakiku dengan terseret-seret itupun akhirnya melangkah mengikuti jejak kaki Hanan. Menaiki Desa Sembungan yang merupakan dataran tinggi. Aku mendaki dan terus berjalan mendaki menuju suatu lahan kosong yang sepi, hanya empat dan lima orang saja sedang duduk-duduk di bawah bukit yang gelap. Aku tiba-tiba berpikir buruk pada kelakuan Hanan. “Apa yang kau lakukan pada ku, mengajaku ke tempat yang begini, bahkan sepi katanya kau ingin mengajakku ke tempat yang Indah?” Tanyaku pada Hanan. “Kau akan melihatnya esok pagi, kau duduk tunggu di sini” Hanan ngeloyor pergi. Aku duduk menunggu Hanan, di salah satu warung di tempat itu, aku berpikir tentang apa yang ingin diperlihatkanya padaku. Tempat sunyi sepi di bawah bukit yang gelap. Tiba-tiba, Hanan datang. Ia datang membawa dua senter kecil dan satu tenda mini. “Kita akan berkemah di atas malam ini” “Apa?” Aku tersentak lalu menatap ketinggian bukit itu. “Kau waras?” “Kau ingi ikut, atau kau kembali sendiri ke bawah” Akhirnya, dengan terpaksa aku mengikutinya mendaki bukit itu. Bukit yang sebenarnya tidak begitu tinggi jika dibandingkan bukit-bukit lainya. Hanya butuh satu jam untuk ke atas. Tetapi, aku tak biasa mendaki, rasanya kaki ini berat untuk mendaki. Namun, aku memaksakan kaki ini untuk mendaki. Mungkin ada sesuatu yang indah di atas bukit ini. “Aku lelah” kataku dipertengahan Jalan. “Duduklah dulu” Pinta Hanan. Hanan memintaku untuk istirahat sejenak, duduk-duduk di tanah yang bertangga itu. Hanan pun juga duduk menemaniku. Mataku menatap wajah Hanan yang tersenyum, lalu mataku beralih ke samping kanan dan samping kiri suasana bukit ini terlalu gelap. “Ini bukit apa, kenapa kau mengajakku ke sini?” Tanyaku tiba-tiba. “Bukit si kunir”. Jawab Hanan “Kenapa Kunir tidak jahe atau lengkuas” Hanan mengusap rambutku perlahan. Ia tersenyum. “Kenapa, karena langit pada pagi hari nanti tidak berwarna putih tetapi itu kuning. Orang bilang, bukit ini sunrisenya pulau Jawa” “Aku jadi penasaran”. “Kalau penasaran... jangan lama-lama istirahatnya”. Aku tersenyum dan bangkit dari duduk ku. Aku dan Hanan melanjutkan langkahku melewati ketinggian bukit, yang katanya tingginya 2.350 meter dari permukaan air laut.. Dingin malam itu, sudah tidak begitu terasa sebab dengan mendaki bukit membuat keringat ini tercucur deras. Setengah dua belas malam, kami sampai di puncak bukit. Hanan mendirikan tenda, aku berjalan-jalan di sekitar tenda, berjalan melangkah menatap ke bawah bukit. Ternyata pemandnagan ke bawah bukit begitu fantastic. Pemandangan kota asri nampak kecil dari puncak, keindahan lampu-lampu nampak seperti bintang berjejeran. Hanan telah usai mendirikan tenda, ia berjalan melangkah menujuku. “Inikah yang ingin kau tunjukkan padaku” Kata ku pada Hanan “Sebagaian besar, sebagian tidak” “Kunir” Aku dan Hanan tertawa. Aku bangkit ingin berlari menuju tenda, namun tiba-tiba aku ingin jatuh. Aku terpapah oleh Hanan. “Hati-hati Er”. Aku hanya tersenyum dan kembali ke tenda. Sementara Hanan, masih menatap kosong pada langit-langit malam. Tiba-tiba hatiku bergetar, “Ada apa dengan jiwa ini, kenapa aku ingin terus menatapnya, tetapi aku juga takut menatap matanya”. Malam semakin larut, aku tertidur di dalam tenda dan Hanan kembali ke Tenda. Ia pun tidur menunggu fajar tiba. Saat Fajar tiba, Hanan membangunkanku untuk keluar tenda. “Ayo Ikut aku” Hanan menuntunku yang nampaknya masih mengantuk, menuju ke suatu tempat di bawah sinar fajar. Pagi itu, langit masih gelap, namun sinar surya sudah mulai melambai-lambaikan dengan warna emas di petala langit. “Lihatlah itu Er”. Hanan menunjukkan tanganya ke arah Matahari “Sungguh indah” Aku takjub dengan warna langit yang mempesona. Warna langit yang menjadi anugerah tuhan. Sunrise, Golden, Kunir itulah nama-nama yang diperuntukkan untuk bukit ini. Aku menatap langit dengan penuh takjub. Langit di ufuk timur, tergores dengan pantulan-pantulan surya keemasan. Tidak hanya aku, mereka yang juga baru kali pertama datang kemari menatap langit dengan begitu takjub. “Ini sunrisenya pulau Jawa” Kata seseorang yang ku dengar. “Benarkan kataku”. Goda Hanan “Terimakasih” aku menatap wajah Hanan dengan berkaca-kaca. Si Kunir menjadi tempat pertama, aku mengikuti hatiku saat lalu. Aku sadar bahwa aku menyukainya, menyukai Hanan. Bukit ini, menjadi alasanku kenapa aku harus kembali ke sana. Nikmat tuhan melalui ciptaanya, memberikan filosofi padaku. Bahwa Hanan adalah ciptaan tuhan sebagai cinta yang akan aku tanam. Pendakian kedua setelah itu, Hanan menembakku. Aku pun menerimanya, sebab tak ada alasan bagiku menolaknya. Pada akhirnya, si Kunir menjadi saksi akan perasaanku. Namun, lima bulan aku jalan dengan Hanan. Tiba-tiba, Ia menghilang. Aku tidak lagi menjumpai Hanan. Aku tidak menemukanya di Kampus. Seperti menghilang atau sengaja menghilang, aku benar-benar tidak menemukanya. Aku begitu marah pada Hanan. Aku mengganti nomor hapeku. Hingga aku lulus dari Kampus aku tidak menemukanya. Akhirnya, aku pergi ke luar kota. Aku pergi melanjutkan studi S2 ku di salah satu kampus di kota Liwet. Aku melanjutkan studiku selama 1,5 tahun. Usai itu, aku kembali ke kota asalku. *** Tidak ada angin, tidak ada ombak. Aku iseng menatap facebooknya Hanan. Nampak, Hanan baru saja updete foto dri puncak Golden Sunrise. Tiba-tiba aku punya pemikiran untuk kesana. Akhirnya, pada suatu malam aku pergi menuju kota Asri, menuju Desa Sembungan. Namun kali ini, aku tidak menginap di Tenda. Aku menginap di sebuah hotel yang ada di desa Sembungan. Barulah, pada pukul 03.00 dini hari, aku bersama rombongan-rombongan lain yang tak kukenal menjejaki bukit itu. Jarak pandang pada pagi itu, menghalangiku untuk menaiki puncak. Dengan waktu, hanya 45 menit aku sampai di puncak bukit. Bukit yang dulu sering dikunjungi oleh Hanan dan aku. Aku menatap langit-langit yang nampak gelap, namun celah-celah matahari memberinya warna ke emasan. Seperti dulu, aku masih takjub. Aku menatap tanah yang agak terjal, dulu aku akan jatuh dan dipapah di sana. Kemudian aku menatap seorang laki-laki di pojokan, di sanalah Hanan biasanya duduk menatap kosong ke bawah. Aku berjalan menuju laki-laki itu, laki-laki itu manatapku dan aku menatapnya. “Era” “Hanan” Secara bersamaan kami tersentak kaget. Aku tersenyum menatapnya, dia juga tersenyum menatapku. Sempat aku marah padanya, karena pernah meninggalkanku tanpa ada sebab apapun. Menurut cerita Hanan, ia begitu karena stress menghadapi skripsi sementara ayah dan Ibunya mendesaknya. Maka ia menghilang dari hidupku, agar aku tidak menggangunya begitupula ia tidak ingin menggangu ku. Namun sayang, Aku justru mengganti nomerku, hingga ketika Hanan ingin menghubungiku kembali dan ingin meminta maaf. Aku justru telah menghilang. *** Pertemuan itu, membuat kami kembali menjalani tali perasaan yang lepas. Si Kunir, Golden Sunres memang menjadi saksi perasaan kami. Perasaan yang kami awali dan perasaan yang kami akhiri. Perasaan awal adalah perasaan ketika cinta itu tumbuh. Perasaan akhir adalah penentuan arah bahwa ia adalah satu-satunya cinta. Seperti mendaki bukit si Kunir, untuk menatap sunrise perlu perjuangan, maka akan aku syukuri nikmat keindahan emas yang ada di langit, maka ketika cinta ini juga bukan sesuatu yang mudah akan ku syukuri apa yang telah ada di hati ini karena itu bagian dari nikmat tuhan... *** Magelang, 15 febuari 2015-02-15 13.01

Sabtu, 14 November 2015

SOSOK KARTINI DI WAJAH NYAI SELASIH Oleh : Nurul Setyorini



Ketika sejak zaman negeri ini berupa tanah jajahan

Ketika tanah ini berwujud kerajaan

Sampai negeri ini berada pada tanah keprisedan

Ketimpangan gender masih menggerayangi seantero negeri hingga kini

Tembok besar masih memisahkan jurang perbedaan

Para perempuan masih dijembatani oleh budaya patriakat

Di kondisi itu pula selalu muncul tokoh perempuan sebagai pejuang perempuan



Lirik lagu ini mengingatkanku pada sosok pejuang itu:

Ibu kita Kartini, putri sejati

            Putri Indonesia, harum namanya

            Ibu kita Kartini, pendekar bangsa

            Pendekar kaumn

            Putri yang mulia

            Sungguh besar cita-citanya

            Bagi Indonesia

            Ibu kita Kartini, putri Jauhari

            Putri yang berjasa seindonesia

            Wahai Ibu Kita Kartini

            Putri yang mulia

            Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

Pandangilah lirik lagu itu, lirik lagu tentang apakah itu? Pasti semua tahu bahwa lirik lagu tersebut adalah tentang RA Kartini. Siapakah Ra Kartini? Pasti di dalam benakmu mengenali sosoknya. Banyak orang yang mengagumi sosok Ra Kartini. Ra Kartini dikenal sebagai perempuan yang telah melakukan emansipasi guna cita-cita bangsa di seantero negeri tercinta ini. Ia telah memperjuangkan perempuan untuk bersekolah. Ia telah memperjuangkan perempuan untuk bekerja. Kartini merupakan pejuang kaum wanita yang  memperjuangkan kaum nya. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus dia mampu mengubah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Penderitaan perempuan Jawa yang dunianya sebatas tembok rumah dan bersedia dimadu kini bisa bebas untuk berpartisipasi di segala bidang.

Tetapi seperti apakah wajah Raden Ajeng Kartini di matamu? Mungkin engkau akan mellintasi sedikit album foto perempuan muda di buku sejarah. Seperti apakah ia di dalam album foto itu? Ia adalah perempuan cantik dengan wajah usia 25 tahunan, mengenakan kebaya Jawa, dan rambut berkonde. Benar ia adalah sosok RA Kartini. Namun, bagiku sosok RA Kartini tidak terlintas pada sosok perempuan di buku sejarah semata, sebab di era zaman sekarang pun sebenarmya ketimpangan terhadap kaum perempuan, diskriminasi terhadap wanita masih ada sehingga sosok RA Kartini masih dibutuhkan dalam melawan segala intrik-intrik ketimpangan bagi kaum perempuan. Bagiku sosok RA Kartini juga nampak di wajah  seorang perempuan, ia bernama Nyai Selasih.

            Siapakah Nyai Selasih? Perempuan, wanita, gadis, istri, putri, ataukah seorang raden ajeng. Jika perempuan, perempuan seperti apakah dia sehingga dia di beri gelar perempuan? Jika wanita, wanita seperti apakah dia sehingga kelak ia akan mengubah gelar wanitanya menjadi perempuan? Jika ia gadis mengapa ia sebut dia seorang istri? Jika ia putri, putri siapakah dia sehingga ia lahir dengan pemikiran yang begitu hebatnya khususnya kaum perempuan? Jika ia istri, istri siapakah dia sehingga perlu melakukan emansipasinya sebagai sosok perempuan? Dan jika ia seorang Raden Ajeng, putri kalangan darah biru siapakah sehingga pada jaman sudah moderen seperti ini masih menggunakan gelar Raden Ajeng? Sebenarnya, dia bukan siapa-siapa, ia bukan sosok perempuan yang mempunyai pangkat, derajat, dan wibawa yang tinggi. Ia juga bukan keturunan Raja, maupun Adipati. Ia hanya seorang perempuan desa, Ia memang masih mempunyai gelar Raden Ajeng, namun gelar Raden Ajeng yang dimilikinya bukanlah Raden Ajeng yang menunjukkan keturunan kerajaan maupun keturunan keraton. Melainkan Raden Ajeng yang dimilikinya karena Ia merupakan keturunan pangeran pendiri desa tempat yang ia tinggali atau Bubak Sembung Senggani. Pangeran itu sangat disegani sehingga gelar Raden Ajeng masih melekat di diri sosok Nyai Selasih.

Kini, Nyai Selasih merupakan sosok warga biasa yang ada di desa itu, sebab ia adalah keturunan terakhir dari keluarganya sebagai sosok keturunan lurah. Ia terlahir sebagai sosok wanita sehingga menurut tradisi desa wanita tidak boleh menjadi kepala desa, wanita itu hanya mengurusi sumur dan dapur. Untuk itu, kepala desa yang dulu di emban secara garis keturunan kini akan berubah mengikuti sistem pemerintahan yang ada di negara tersebut. Sebenarnya Nyai Selasih setuju-setuju saja bahwa desanya sudah mulai mengikuti sistem pemerintahan moderen, hanya saja yang membuat Nyai Selasih tidak setuju adalah  alasan para petinggi desa yang memojokanya dengan alasan kewanitaanya itu. Kini desa sedang berebut menentukan siapakah kepala desa yang layak berada di kursi pemerintahan. Semua calon kepala desanya yang akan menjabat adalah kaum laki-laki, tidak ada tempat bagi kaum perempuan di sana.

“Anda tahukan Nyai Selasih bahwa anda merupakan keturunan terakhir dari alur kelurahan selama ini” Kata seorang pejabat desa mengawali pembicaraan. “Sekalipun demikian, anda terlahir sebagai wanita. Jika anda terlahir sebagai perempuan, maka tidak bisa menjabat sebagai lurah”.

“Ya saya mengerti, lakukan saja yang terbaik untuk desa kita tercinta ini” Jawab Nyai Selasih secara bijak. Sebenarnya, ia sangat kecewa dengan keputusan tersebut. Ia kecewa bukan karena alasan ia tidak dapat menjabat sebagai lurah, tetapi ia kecewa karena gelar kewanitaanya telah diacuhkan dan disingkirkan di desa tersebut sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam mengelola desa tersebut.

“Kenapa harus begitu Pak Kadus?” Tiba-tiba seorang wanita muda angakat berbicara “Bukankah Ra Kartini, Megawati, juga wanita, tetapi mereka ikut ambil bagian dalam urusan pendidikan dan juga pemerintahan, tetapi mengapa Nyai Selasih tidak bisa? Katanya pemerintahan desa akan mengikuti negara, bukankah negara juga membiarkan wanita juga ikut andil dalam pemerintahan??”