Sabtu, 14 November 2015

SOSOK KARTINI DI WAJAH NYAI SELASIH Oleh : Nurul Setyorini



Ketika sejak zaman negeri ini berupa tanah jajahan

Ketika tanah ini berwujud kerajaan

Sampai negeri ini berada pada tanah keprisedan

Ketimpangan gender masih menggerayangi seantero negeri hingga kini

Tembok besar masih memisahkan jurang perbedaan

Para perempuan masih dijembatani oleh budaya patriakat

Di kondisi itu pula selalu muncul tokoh perempuan sebagai pejuang perempuan



Lirik lagu ini mengingatkanku pada sosok pejuang itu:

Ibu kita Kartini, putri sejati

            Putri Indonesia, harum namanya

            Ibu kita Kartini, pendekar bangsa

            Pendekar kaumn

            Putri yang mulia

            Sungguh besar cita-citanya

            Bagi Indonesia

            Ibu kita Kartini, putri Jauhari

            Putri yang berjasa seindonesia

            Wahai Ibu Kita Kartini

            Putri yang mulia

            Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

Pandangilah lirik lagu itu, lirik lagu tentang apakah itu? Pasti semua tahu bahwa lirik lagu tersebut adalah tentang RA Kartini. Siapakah Ra Kartini? Pasti di dalam benakmu mengenali sosoknya. Banyak orang yang mengagumi sosok Ra Kartini. Ra Kartini dikenal sebagai perempuan yang telah melakukan emansipasi guna cita-cita bangsa di seantero negeri tercinta ini. Ia telah memperjuangkan perempuan untuk bersekolah. Ia telah memperjuangkan perempuan untuk bekerja. Kartini merupakan pejuang kaum wanita yang  memperjuangkan kaum nya. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus dia mampu mengubah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Penderitaan perempuan Jawa yang dunianya sebatas tembok rumah dan bersedia dimadu kini bisa bebas untuk berpartisipasi di segala bidang.

Tetapi seperti apakah wajah Raden Ajeng Kartini di matamu? Mungkin engkau akan mellintasi sedikit album foto perempuan muda di buku sejarah. Seperti apakah ia di dalam album foto itu? Ia adalah perempuan cantik dengan wajah usia 25 tahunan, mengenakan kebaya Jawa, dan rambut berkonde. Benar ia adalah sosok RA Kartini. Namun, bagiku sosok RA Kartini tidak terlintas pada sosok perempuan di buku sejarah semata, sebab di era zaman sekarang pun sebenarmya ketimpangan terhadap kaum perempuan, diskriminasi terhadap wanita masih ada sehingga sosok RA Kartini masih dibutuhkan dalam melawan segala intrik-intrik ketimpangan bagi kaum perempuan. Bagiku sosok RA Kartini juga nampak di wajah  seorang perempuan, ia bernama Nyai Selasih.

            Siapakah Nyai Selasih? Perempuan, wanita, gadis, istri, putri, ataukah seorang raden ajeng. Jika perempuan, perempuan seperti apakah dia sehingga dia di beri gelar perempuan? Jika wanita, wanita seperti apakah dia sehingga kelak ia akan mengubah gelar wanitanya menjadi perempuan? Jika ia gadis mengapa ia sebut dia seorang istri? Jika ia putri, putri siapakah dia sehingga ia lahir dengan pemikiran yang begitu hebatnya khususnya kaum perempuan? Jika ia istri, istri siapakah dia sehingga perlu melakukan emansipasinya sebagai sosok perempuan? Dan jika ia seorang Raden Ajeng, putri kalangan darah biru siapakah sehingga pada jaman sudah moderen seperti ini masih menggunakan gelar Raden Ajeng? Sebenarnya, dia bukan siapa-siapa, ia bukan sosok perempuan yang mempunyai pangkat, derajat, dan wibawa yang tinggi. Ia juga bukan keturunan Raja, maupun Adipati. Ia hanya seorang perempuan desa, Ia memang masih mempunyai gelar Raden Ajeng, namun gelar Raden Ajeng yang dimilikinya bukanlah Raden Ajeng yang menunjukkan keturunan kerajaan maupun keturunan keraton. Melainkan Raden Ajeng yang dimilikinya karena Ia merupakan keturunan pangeran pendiri desa tempat yang ia tinggali atau Bubak Sembung Senggani. Pangeran itu sangat disegani sehingga gelar Raden Ajeng masih melekat di diri sosok Nyai Selasih.

Kini, Nyai Selasih merupakan sosok warga biasa yang ada di desa itu, sebab ia adalah keturunan terakhir dari keluarganya sebagai sosok keturunan lurah. Ia terlahir sebagai sosok wanita sehingga menurut tradisi desa wanita tidak boleh menjadi kepala desa, wanita itu hanya mengurusi sumur dan dapur. Untuk itu, kepala desa yang dulu di emban secara garis keturunan kini akan berubah mengikuti sistem pemerintahan yang ada di negara tersebut. Sebenarnya Nyai Selasih setuju-setuju saja bahwa desanya sudah mulai mengikuti sistem pemerintahan moderen, hanya saja yang membuat Nyai Selasih tidak setuju adalah  alasan para petinggi desa yang memojokanya dengan alasan kewanitaanya itu. Kini desa sedang berebut menentukan siapakah kepala desa yang layak berada di kursi pemerintahan. Semua calon kepala desanya yang akan menjabat adalah kaum laki-laki, tidak ada tempat bagi kaum perempuan di sana.

“Anda tahukan Nyai Selasih bahwa anda merupakan keturunan terakhir dari alur kelurahan selama ini” Kata seorang pejabat desa mengawali pembicaraan. “Sekalipun demikian, anda terlahir sebagai wanita. Jika anda terlahir sebagai perempuan, maka tidak bisa menjabat sebagai lurah”.

“Ya saya mengerti, lakukan saja yang terbaik untuk desa kita tercinta ini” Jawab Nyai Selasih secara bijak. Sebenarnya, ia sangat kecewa dengan keputusan tersebut. Ia kecewa bukan karena alasan ia tidak dapat menjabat sebagai lurah, tetapi ia kecewa karena gelar kewanitaanya telah diacuhkan dan disingkirkan di desa tersebut sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam mengelola desa tersebut.

“Kenapa harus begitu Pak Kadus?” Tiba-tiba seorang wanita muda angakat berbicara “Bukankah Ra Kartini, Megawati, juga wanita, tetapi mereka ikut ambil bagian dalam urusan pendidikan dan juga pemerintahan, tetapi mengapa Nyai Selasih tidak bisa? Katanya pemerintahan desa akan mengikuti negara, bukankah negara juga membiarkan wanita juga ikut andil dalam pemerintahan??”

“Memang kita akan mengikuti cara baru dalam pemerintahan, yaitu demokrasi. Sekalipun demikian, kita harus ingat tradisi di tanah kita, semua pemerintahan dari golongan laki-laki, pendiri tanah kita siapa Raden Bagus Ngabei, ia adalah laki-laki. Kemudian Lurah pertama siapa? Raden Sumarjo, ia adalah laki-laki. Atau ayah dari Nyai Selasih sendiri sebagai lurah terakhir kemarin, ia juga laki-laki. Jadi, tidak ada kisahnya perempuan menjadi lurah. Bukan begitu Nyai?”

Laki-laki menunjuk Nyai Selasih sehingga memojokkan dirinya sebagai keturunan lurah dan sekaligus sebagai golongan wanita. Sebagai keturunan lurah yang dipojokkan, tidak mungkin ia akan menjaga alur lurahnya terus ditangan keluarganya. Bisa jadi, para penduduk pikir Nyai Selasih dianggap akan menguasai selamanya alur lurah di tangan keluarganya. Namun, ia sebagai wanita sebenarnya juga merasa tersakiti atas kebijakan tersebut, menurutnya tindakan tersebut tidak adil terhadap golongan wanita.

Sekalipun demikian, ia harus bertindak sebijaksana mungkin “Menurut para pemerintah desa yang baik itu mana silakan diambil, saya akan mengikuti keputusan tersebut.

“Nah bagus, berati anda setuju dengan keputusan kami, bahwa alur lurah yang selama ini ada di tangan keluarga anda kini harus diserahkan ke desa”. Lanjut laki-laki itu.

Nyai Selasih tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi martabat kaum perempuan, ia hanya mampu menganggukan ke dua kepalanya ke bawah. “Iya Pak”.

Dengan terpaksa ia menyanggupi permintaan para pejabat pemerintahan di desa itu. Akhirnya alur perjalan lurah yang selama ini ada di tangan keluarganya, kini harus diserahkan ke penduduk desa. Nyai Selasih tidak merasa beban menyerahkan itu kepada penduduk, yang menjadi beban hanyalah martabatnya sebagai perempuan belum bisa dilindunginya.

***

Mentari kian melambai tanganya, siang ditinggal embun pagi. Cahaya lazuardi sudah nampak jelas menghadang mata. Malam itu Nyai Selasih  dan suaminya sedang melakukan makan malam sekaligus bercakap-cakap.

“ Mengapa harus kata wanita yang menjadi dasar perubahan ini!” kata Selasih pada Suaminya saat makan malam terjadi.

“Jadi menurutmu harus kata apa yang cocok untuk menggantikanya, wedokan atau wadon?” Jawab Suami Nyai Selasih sambil tertawa.

“Bukan seperti itu, tapi kenapa harus wanita yang menjadi dasar perubahan ini semua. Pemikiran semacam apakah itu sehingga wanita tidak mempunyai letak di mata masyarakat, katanya mengikuti pemerintahan moderen, namun cara berpikir mereka masih tradisional dan kolot, sungguh aku bukanya ingin menempati alur posisi keluargaku dulu menjadi kepala desa dan memimpin, tetapi cara kolot yang mengesampingkan para wanita telah menyakitiku karena aku wanita”

“Ya sudah sabar saja dengan status kewanitaanmu, tidak mudah menempatkan diri sebagai wanita seperti Kartini itu. Toh, apa pentingnya wanita bereksistensi, wanita itu baiknya duduk manis di kamar, masak, dan dandan, pekerjaan seperti itu bukankah pekerjaan yang cocok sebagai wanita, dengan pekerjaan di luar itu bukankah pikiramu justru menjadi pusing memikirkan politik, sosial dan dunia, soal uang, soal politik, soal dunia. Jangan sampai kau melupakan aku  sebagai suamimu!”

“Benarkah kau memandang istrimu seperti itu?” Lanjut Nyai Selasih “Bereksistensi bukan berarti melupakan statusku sebagai istrimu, aku ini bukan artis. Hanya saja aku ingin status wanita itu tidak dipinggirkan. Kau tak beda seperti mereka mas, kau meminggirkan aku sebagai perempuan!”

“Jangan terlalu sensitif, bukankah benar pernyataanku, tidak usah melakukan sesuatu di batas kemampuanmu sayang!”

“Menurutmu aku atau perempuan itu tidak bisa apa-apa mas?” Nyai Selasih menggerutu.

            Pernyataan suami Nyai Sariem tidak memberikanya jawaban yang bagus untuknya. Pernyataan suaminya justru membuat kecambuk di dadanya, ketimpangan terhadap kaum perempuan yang masih berada di lingkup masyarakat dan keluarganya telah memojokkan kaum perempuan. Di sini ada pertanyaan besar yang selalu mengintai hatinya, apakah salah seorang wanita duduk di panggung politik, apakah salah seorang wanita berurusan dengan pemerintahan, apakah salah seorang wanita berurusan dengan dunia sosial, dan  apakah salah wanita berurusan dengan dunia?  Jika salah di mana letak kesalahanya tersebut, ini tidak bisa diterima jika alasanya karena wanita itu cocoknya di sumur maupun di dapur.

 RA Kartini di usia muda sudah memperjuangkan status kaum perempuan untuk berkembang dan beremansipasipasi, perempuan tidak dibiarkan untuk tidak bekerja, perempuan tidak dibiarkan untuk tidak sekolah. Maka  akupun tidak pula membiarkan perjuangannya sebagai kaum perempuan sia-sia. Tidak peduli apa kata suamiku, tidak peduli apa kata para kaum laki-laki di sini, tidak peduli pula apa kata dunia, satu kepedulianku mereka (kaum perempuan) harus dipedulikan untuk berperan aktif di masyarakat, politik, dan dunia. Perempan tidak selamanya akan bersembunyi di balik tembok-tembok besar, jika selamanya tidak melakukan apa-apa di sebalik tembok itu. Perempuan tidak selamanya hanya berkutat dengan urusan dapur dan sumur. Akan tetapi, perempuan sekali lagi harus mempunyai kontribusi besar di dalam masyarakat ini. Bukankah di sebalik Pak Presiden ada Ibu Presiden? Bukankah di sebalik Pak Lurah ada Ibu Lurah? Bukankah di sebalik Pak RT ada Ibu RT? Lalu apakah hanya embel-embel Ibu saja yang melekat di sebalik kata Ibu, semestinya itu tidak sebatas embel-embel saja. Karena sebenarnya, ada hak dan kewajiban para ibu yang berperan di dalamnya. Entah Ibu Presiden, Ibu Lurah, ataupun Ibu RT akan berperan aktif di dalam masyarakat, mereka seharusnya mengayomi para wanita di negeri ini, mereka sebaiknya menjaga dan membimbing para perempuan di negeri tercinta ini.

            Pesta politik di desa ini semakin ramai, mereka mengadakan perang politik dengan ceramah dan demonstrasi janjian yang belum jua terwujud. Mereka masih memberikan janji-janji politik yang masih di angan-angan. Entah terwujud ataukah hanya sebatas iming-iming saja kepada masyarakat desa.  Di  lain pihak, ada yang memberikan seperangkat bantuan berupa kursi, meja, lemari di beberapa tempat ibadah di desa ini, apakah maksudnya? Apakah mereka benar-benar peduli dengan warga? Apakah mereka bermaksud untuk menyuap para warga? Namun, semua tidak memberikan jawaban bahwa mereka adalah calon-calon lurah yang baik di desa ini, sebab kepediulian terhadap warga desa sendiri belum juga terlihat. Kepedulian mereka hanya terletak pada kursi pemerintahan saja. Kepedulian mereka terletak pada jabatan semata? Kepedulian mereka terletak pada kepemimpinan semata. Padahal lihat saja di desa ini, masih banyak yang harus diperhatikan para remaja putri masih banyak menganggur, para istri masih sibuk dengan urusan dapurnya semata, dan para anak-anak masih banyak yang tidak bersekolah. Mungkin mereka tidak menjadi dasar kepedulian mereka, atau status mereka teracuhkan di lingkungan ini. Lantas, bagaimana nasib mereka? Apakah nasib mereka akan seperti ini terus? Beberapa abad kemudian apakah mereka akan dibiarkan seperti ini? Bagaimana nasib penerus bangsa yang sudah merdeka ini? Apakah akan melahirkan penerus bangsa yang seperti ini juga. Siapakah yang akan memikirkan, jika bukan kita sendiri yang akan memikirkan mereka.

Akhirnya satu keputusan diambil, Nyai Selasih merencaakan sesuatu guna kepedulianya terhadap warga desa yang masih teracuhkan itu. Ia tidak memperdulikan alur keluarganya, ia tidak memperdulikan kursi pemerintahan, ia pula tidak memperdulikan perang politik yang terjadi di desanya. Ia akan lebih peduli pada nasib para warganya yang masih teracuhkan. Nasib para remaja perempuan yang mengangur, nasib para istri yang hanya berkutat dengan urusan rumah tangga saja, dan nasib anak-anak yang tidak bersekolah. Ia harus memikirkan nasib mereka, tidak akan dibiarkan menjadi bagian warga yang termarginalkan, tidak akan dibiarkan menjadi warga yang teracuhkan, dan tidak pula akan dibiarkan menjadi warga-warga yang miskin. Mulai sekarang, ia akan mengusahakan kemajuan dan kemakmuran warga desa tak terkecuali perempuan

***

            Kebetulan Nyai Selasih tinggal di sebuah desa yang dekat dengan sungai perlintasan. Sungai tersebut sering digunakan untuk melintas bagi warga desa sebelah sebagai jalur transpotasi, warga desa di sinipun sering menggunakan sungai tersebut untuk melintas ke desa sebelah, entah bekerja, bersekolah, maupun sebatas untuk berkunjung. Menurut Nyai Selasih tempat ini masih perlu dikelola. Ia mengajak para wanita di desanya untuk mengelola sungai tersebut sebagai salah satu sumber kehidupan.

            “Seperti apakah kira-kira pengelolaan yang dapat kita lakukan Nyai sehingga sungai ini menjadi sumber kehidupan bagi kita?”

            “Sebenarnya itu semacam kegiatan yang tidak jauh dari keterampilan seorang wanita, tinggal bakat apa yang dimilikinya sehingga mampu menghasilkan  uang”.

“Memang apa yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan uang?”

“ Seperti yang saya katakan tadi itu tergantung bakat apa yang kalian semua miliki, misalnya Bu Juwita sering saya lihat menanam tanaman cabe berarti bakatnya adalah menanam cabe, nah cabe tersebut dapat anda jual nanti. Bu Eni, sering saya lihat membuat rajutan dari benang berarti bakatnya merjaut, nah hasil rajutan itu kita jual di sini, atau Bu Suminten yang sering membuat keranjang berarti bakatnya membuat keranjang sehingga anda juga bisa menjualnya di sini”.

“Jadi, maksudnya ingin berjualan di sini, bukankah ini tempat perlintasan Nyai?”

“Justru itu, karena ini tempat perlintasan maka tempat ini sangat strategis guna menghasilkan uang dari semua perdagangan yang akan anda jual nanti, sebab banyak warga kita maupun warga sebelah yang datang dan pergi melintasi sungai ini. Dengan begitu, mereka akan melihat dan berniat membeli barang dagangan kita semua nanti”.

“Tapi Nyai, di mana kita akan berjualan, sebab bukankah di pinggiran sungai ini tidak ada lahan lagi untuk berjualan. Lahan ini sudah sangat sempit Nyai.”

“Lihatlah sungai itu”. Nyai Selasih menunjuk ke hamparan sungai yang Luas. Jernihnya air bagai cermin kehidupan, begitu luas dan begitu indah. Masih banyak hamparan sungai yang tidak terpakai untuk mendirikan sebuah pasar “Bukankah sungai ini luas sekali, sementara perlintasan jalan hanya menggunakan bagian tengah sungai ini”

“Saya tidak mengerti”. Kata seorang ibu menggelengkan kepala.

“Kita akan membuat pasar di atas sungai, itu akan menguntungkan kita dalam proses perdagangan kelak” Jelas Nyai Selasih.

***

Hari berikutnya, Nyai Selasih bersama-sama remaja putri dan para istri mendirikian sebuah pasar di sungai tersebut atas bantuan para warga lain. Kali ini, mereka mau membantu dalam kegiatan para perempuan. Menurut mereka kegiatan perdagangan memang kegiatan yang cocok untuk kaum perempuan. Paling tidak ada kegitan bagi kaum perempuan, tetapi tidak menguras tenaga mereka sehingga tidak meninggalkan kewajiban mereka sebagai seorang istri. Di sisi lain, masih ada yang memandang sebelah mata kegiatan kaum perempuan ini,. Menurut mereka kegiatan ini semacam kegiatan yang hanya membuang waktu saja, sebab tidak akan ada hasil apapun.

“Apa pula kegiatan semacam ini perlu dilakukan, kau ini sebaiknya mengurusi cucianku, makanku, dan rumahku?” Kata seseorang suami sinis pada istrinya.

“ Kenapa harus kata ku bukan kita mas?” Sindir Istrinya

“Kegitana semacam ini kegiatan yang tidak cocok, kau sebaliknya di rumah saja, toh apa yang akan kau lakukan tidak akan menghasilkan apa-apa”.

“Maksudnya apa?”

“Kau ini bodoh, kau ini tidak pernah mengenyam pendidikan apapun, apa lagi soal perdagangan, kau hanya membuang waktumu saja”.

Nyai Selasih yang mendengar pembicaraan itu hanya mengelus dada. Ia yakin bahwa apa yang akan dilakukanya kelak menghasilkan pendapatan untuk membantu kehidupan keluarga sehingga di dalam keluarga tidak ada istilah ku melainkan kita. Benar, suatu usaha tidak ada yang sia-sia, usaha apapun itu jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan hasil yang maksimal.  Usaha yang dilakukan Nyai Selasih bersama perempuan-perempuan dan para istri di desa itu menghasilkan pendapatan yang luar biasa. Pasar yang mereka dirikan menjadi pasar yang ramai. Pasar yang mereka dirikan menjadi pasar hiburan. Setiap warga yang melintas paling tidak sering mampir untuk sekadar makan maupun belanja barang-barang yang dijual para pedagang di pasar itu. Akhirnya, sebagian para suami mereka menyadari bahwa para istri mereka adalah perempuan-perempuan perkasa yang layak diberi tempat di desa maupun keluarga. Karena mereka bisa  membantu ekonomi warga sekitar dan ekonomi keluarga.

Pendapatan besar yang mereka hasilkanpun bisa mereka sisakan untuk mendirikan sebuah sekolahan. Mereka tahu masih banyak anak-anak di desa itu yang tidak sekolah, tidak hanya kemiskinan tetapi juga karena letak sekolahan itu terlalu jauh bagi anak-anak untuk jauh dari keluarga mereka.

“ Syukurlah akhirnya, kita bisa mengumpulkan uang untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak di warga desa kita ini.” kata seorang ibu pada kawanya.

“Benar, tapi apa yang bisa kita lakukan dalam mendirikan sekolahan, lahan mana yang bisa kita manfaatkan untuk mendirikan sekolah dan siapakah guru-guru yang akan mendidik anak-anak itu”. Kata ibu satunya, dengan pertanyaan panjang.

Ibu satunya hanya menggelengkan kepala. “Entahlah bagaimana caranya?”

Kedua ibu tersebut berdiri kaku, mereka kemudian memburu Nyai Selasih yang baru saja datang, Nyai Selasih langsung sergap dengan pertnayaan-pertanyaan itu.

“Seperti yang engkau katakan Nyai, sebagian uang kita akan kita gunakan untuk mendirikan sebuah sekolahan, sebab masih banyak anak-anak di desa kita yang tidak sekolah, tidak hanya kemiskinan tetapi juga karena letak sekolahan itu terlalu jauh bagi anak-anak untuk jauh dari keluarga mereka. Sementara itu, lahan mana yang akan kita dirikan untuk sekolahan? Lalu, apakah uang kita cukup untuk mendirikan sekolahan? Nanti kalau sekolahan sudah berdiri, siapa guru yang akan mengajarnya Nyai? Apakah Nyai? apakah kita, saya saja tidak pernah mengenyam sekolahan Nyai. Apalagi sekarang ini, saya sudah terlalu mencintai dunia perdagangan Nyai. Tidak mungkin saya akan meninggalkan itu”

Nyai Selasih tersenyum, “Tenang semua pertanyaan itu akan teratasi.

“Caranya?”

“Masalah lahan, saya sudah berembug dengan suami saya sehingga lahan sawah saya yang terletak di sebelah rumah Bu Pariyem itu digunakan untuk mendirikan sekolahan bu, dengan uang sumbangan kita, saya pikir akan cukup untuk biaya bangunanya”.

“ Gurunya Bu?”

“Saya tahu keterbatasan kita, tidak mungkin akan menjadi guru-guru para murid kelak. Materi pendidikan sekarang ini semakin sulit. Tidak hanya huruf abc atau angka 123 saja. Bahkan bisa jadi pula para murid itu lebih cerdas dari pada kita”.

“Lantas?”

“Di tetangga sebelah ada seorang mahasiswa pendidikan dasar di salah satu universitas di kota ini, saya sudah mengajak berbicara tentang rencana kita, katanya dia dan teman-temanya bisa membantu dalam mengajar anak-anak nanti. Mereka bisa menjadi guru dari murid-murid kelak.  Selain itu, mereka sebagai mahasiswa pendidikan juga butuh tempat untuk berwiyata bakti?”

“Ada lagi yang menjadi soal Nyai bagaimana persoalan tentang instansinya, bukankah untuk mendirikan sebuah sekolah perlu perizinan juga?”

“Soal itu, biar suami saya yang mengurusnya. Diakan pekerja kecamatan pasti tahulah bagaimana caranya. Dia banyak relasi di pemerintahan pusat sana sehingga ia pasti bisa mencari cara dalam mengurus kekhawatiran kita ini?”

Tiga bulan kemudian, sekolah itupun akhirnya sudah bisa ditempati. Banyak anak-anak yang mendaftar mengikuti kegiatan persekolahan di tempat itu. Desa yang dahulu sepi kini menjadi ramai, ramai pasarnya dan ramai pula anak-anak bersekolah. Semua itu berkat Nyai Selasih. Ia telah memperjuangkan warna desa itu, selain memperdulikan emansipasi wanita ia juga memperdulikan kemajuan warga desa sendiri, ekonomi meningkat dan juga kesadaran pendidikan juga sangat meningkat pula.

***

Pesta pemilu yang dulu ramai di desa itu, telah menentukan bahwa Pak Amir menjadi kepala desa. Ia adalah pembisnis kayu di desa ini. Namun, ia menjadi lurah hanya sebatas karena ia punya uang. ia menjadi lurah hanya sebatas karena ia punya harta. ia menjadi lurah hanya sebatas karena ia punya kekayaan. Namun,  Ia tidak bisa memberikan kemakmuran terhadap warga desanya, para rakyat berpikir ia tidak bisa memimpin rakyatnya. Akhirnya, dua bulan menjadi lurah Pak Amir mengundurkan diri. Kini desa mengalami kekosongan pemerintahan. Kini desa tak ada pemerintahanya. Rencananya desa akan mengadakan pemilihan untuk kedua kalinya. Kali ini, Nyai Selasih diminta untuk mengajukan diri sebagai lurah. Namun, sekali lagi banyak yang menentangnya sebagai lurah karena ia wanita. Wanita sekali lagi mengalami batasan sebagai lurah. Wanita itu maknanya wani di tata, jadi pekerjaanya di bawah kekuasaan laki-laki. Ia tidak pantas untuk memimpin, ia tidak pantas berpolitik, ia tidak pantas mengurusi urusan di luar konteks keluarga.

“Kenapa sekali lagi alasan itu adalah wanita, apakah wanita di persepsi mereka adalah sosok yang rendah?” kata Nyai Selasih mengerutu

“Karena wanita itu hiasan”.Godaa suami Nyai Selasih.

“Beraninya kau mengatakan seperti itu pada ku, aku ini istrimu mas, akupunya hati”.

“Kau selalu marah jika aku goda”.

“Godaanmu itu tidak lucu mas, kau selalu melontarkan kata-kata yang terlalu menyakitiku”.

“Iya, sebenarnya aku sadar. Semua persepsiku tentang wanita yang kolot itu salah”.

“Jadi?” Nyai Selasih tersenyum menang.

“Jadi kau adalah perempuanku. Sebenarnya, kau adalah perempuan yang hebat. Kau mengalahkan semua peran laki-laki di sini untuk membangun desa menjadi desa yang seperti ini. Aku cukup bangga dengan dirimu istriku. Sekalipun demikian, kau tidak boleh mencemooh para warga yang menentangmu untuk duduk di kursi pemerintahan. Nanti mereka pikir, kau akan menguasai alur keluargamu”.

“Aku tahu itu mas, hanya saja sekali lagi penggunaan istilah karena wanita itu membuatku sakit hati. Akankah kamu, menyetujui persepsi orang-orang itu. Andai anak kita perempuan semua kelak, mungkinkah mereka hanya akan kita jadikan istri-istri yang tak berpendidikan. Akankah mereka hanya akan kita jadikan perempuan-perempuan yang berkutat dengan urusan sumur dan dapur semata”.

“Tentu saja tidak, tetapi sekali lagi kau tidak boleh menunjukkan sikap ketidaksukaanmu pada sikap mereka. Nanti mereka pikir, kau tidak merelakan kursi pemerintahan itu atau mungkin mereka pikir kursi itu akan dikuasai keluargamu saja. Kecuali, jika seluruh warga di desa ini menginginkan dirimu untuk menjabat menjadi kepala desa ini, sebab kau mampu mengembannya, mampu membangun warga desa menjadi maju dan berkembang”.

Kali ini pernyataan suami Nyai Selasih sangat bijak. Kalimatnya tidak membuat Nyai Selasih menggerutu dan marah. Nyai Selasih memang menginginkan untuk menjadi seorang lurah, sebab lurah merupakan cita-citanya sejak kecil, ia ingin seperti ayahnya membangun desa ini menjadi desa maju. Namun, teringat kata-kata sang suami, ia tidak akan mencalonkan diri sebagai lurah, ia tidak ingin warga desa pikir ia menggilai kursi pemerintahan. ia tidak ingin warga desa pikir  kursi itu akan dikuasai keluargaku saja, tetapi ia akan menjabat jika seluruh warga di desa ini menginginkan diriku untuk menjabat menjadi kepala desa ini.

***

Hari ini, usai subuh Nyai Selasih memandang petala langit yang begitu cerah. Seperti akan memandang sebuah keberuntungan yang akan menyelimuti dirinya, namun keberuntungan semacam apakah yang akan menyelimuti dirinya itu? Entahlah itu baru semacam pikiran yang masih ada di dalam  angan-angan saja.

Siang ini, pemilihan kepalla desa sedang dimulai, Nyai Selasih tidak diizinkan untuk mencalonkan diri sebab Nyai Selasih berstatus perempuan. Sementara itu, calon yang diajukan hanya satu, yaitu Pak Korimen. Ia mantan kaur keuangan di desa tersebut. Untuk itu, tidak terjadi pencoblosan terhadap calon yang akan dipilih.

Namun, pemilihan tersebut tiba-tiba terjadi keributan di luar kantor kepala desa tempat pemilihan umum terjadi. Banyak kendaraan bermotor berkeliaran, para kaum laki-laki sedang sibuk melakukan persiapan penyambutan terhadap Pak Korimen sehingga mereka tidak sempat melihat keributan terjadi.

“Ada apa ini anda semua datang melakukan keributan, di sini sedang terjadi persiapan penyambutan terhadap kepala desa yang baru!” Kata Nyai Selasih yang kebetulan ada di luar tempat kejadian.

“Kami harap Pak Korimen tidak jadi lurah, kami harap Pak Korimen dipecat jadi kaur!” Teriak seorang laki-laki yang melakukan keributan itu “Kami tidak ingin mendapatkan seorang lurah yang korupsi dan kolusi, apakah sampean mau mendapatkan lurah semacam itu?

“Maksudnya apa ini, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa anda-anda semua datang marah-marah dan membahas soal korupsi? Siapa yang korupsi dan apa pula yang dikorupsi? Nyai Selasih tidak mengerti

“Ya Pak Korimen si Calon Lurah, masak saya! Pak Korimen itu sudah banyak melakukan kesalahan sebagai kaur keuangan, uang air, uang listrik semua dikorupsi, dan ketika mau jadi kaur saja dia sudah kolusi kok!”

“Baiklah lebih jelasnya kita masuk ke dalam saja, saya takut kalau ada wartawan yang melihat dan meliput!”

“Kenapa harus takut dengan wartawan kalau memang salah?”

“Jangan anda pandang dalam satu segi saja, lihat desa ini. Bukankah anda juga pemilik desa juga?”

Sejenak mereka merenung “Benar juga kata Nyai Selasih”.

Akhirnya, merekapun masuk ke dalam kantor balai desa. Mereka memasuki ruangan tempat yang awalnya dijadikan untuk persiapan. Kini ruangan yang awalnya digunakan untuk penyambutan telah menjadi ruang yang sesak dengan keributan para pendemontrasi. Mereka melakukan demonstrasi terhadap Pak Korimen. Mereka membahas persoalan Pak Korimen yang melakukan banyak korupsi dan kolusi tersebut. Mereka marah-marah atas tindakan Pak Korimen, mereka tidak pula menyetujui pencalonan lurah yang diajukan oleh Pak Korimen. Para pejabat kelurahanpun pada akhirnya melakukan kebijakan atas tindakan Pak Korimen. Mereka mencari bukti atas segala asumsi masyarakat atas korupsi dan kolusi yang dilakukanya. Ternyata benar, Pak Korimen telah banyak melakukan korupsi dan kolusi di desa. Berdasarkan bukti yang ada, Para Pejabat pemerintahan melakukan pencabutan atas pencalonan lurah yang dilakukan Pak Korimen. Mereka pun melaporkan tindakan kejahatan yang telah dilakukan oleh Pak Korimen ke kantor polisi sehingga Pak Korimen pun harus berurusan dengan polisi.

Atas kejadian itu, desa belum juga mendapatkan seorang kepala desa. Para Kaum perempuan kembali mengajukan Nyai Selasih menjadi lurah, namun kembali lagi para kaum laki-laki tidak menyetujui tentang pengajuan perempuan sebagai lurah. Kali ini, Bu Suminten sebagai Ibu RT bertindak atas asumsi masyarakat yang salah terhadap kaum perempuan yang dilarang untuk berpartisipasi di masyarakat.

“Apakah benar kita akan selamanya seperti ini, kemajuan apakah yang akan dialami masyarakat jika mengacuhkan kaum perempuan, dari dulu desa kita mengacuhkan para kaum perempuan, sebenarnya tidak ada kemajuan yang dialami justru kemunduran yang dialami”.

“Tradisi kita sudah begitu”. Tiba-tiba seorang  laki-laki ikut berbicara. “Dari dulu desa kita tidak pernah mengajukan seorang perempuan menjadi lurah, nanti dunianya menjadi porak poranda”.

“Tradisi yang mana? Porak poranda seperti apakah? Tidak semua tradisi itu selamanya benar! Tidak selamanya pemimpin perempuan itu salah, dan tidak selamanya pula laki-laki itu benar. Lihat saja, calon-calon lurah yang baru-baru ini bermasalah semua, entah yang satu tidak memimpin, entah yang satu korupsi”

“Itu kan tidak semua”.

“Sekalipun demikian tidak salah kan kita nencoba perempuan jadi lurah, ia sudah banyak membantu para perempuan di desa kita dengan segala pemikiranya dibandikan calon-calon kepala desa yang anda ajukan itu?”.

“Desa kita tidak perempuan semua bu, sementara apa yang diajukan oleh Nyai itu berdasarkan kebutuhan perempuan semata”

“Ada benar dan ada salahnya. Kebenarnya para perempuan selama ini diacuhkan sebab itulah Nyai Selasih mempunyai gagasan semacam itu. Kesalahanya, bahwa pemikiran Nyai Selasih bukan soal kita saja (kaum perempuan), tetapi anak-anak juga diurusi dalam bidang pendidikanya. Padahal anak-anak itu adalah harta kita, selama ini mereka dibiarkan mengacuhkan pendidikanya”.

“Benar... bukankah dengan kemajuan ekonomi yang diajukan Nyai Selasih sangat membantu bukan persoalan uang saja, tetapi pendidikan juga, di sini ia mempunyai peran yang amat besar”. Lanjut seorang ibu yang lain.

“Semua itu kami juga dapat melakukanya”. Kata laki-laki itu membela “Jika hanya membuat pasar untuk kalian, jika hanya membuat sekolahan untuk kalian kami bisa”.

“Kata bisa saja tidak cukup”. Lanjut Bu Suminten. “Jika hanya berkata bisa kamipun juga dapat mengatakanya, bisa membuat desa sendiri, bisa membuat kecamatan sendiri, bahkan membuat negara sendiri, tetapi kita itu nyata pak jadi tidak cukup dengan kata bisa saja, namun wujudnya itu yang mestinya harus ada Pak”

Laki-laki itu kalah berdebat...

Pejabat desa kini sedang berbicara sendiri-sendiri, mereka memikirkan siapa yang cocok untuk dijadikan lurah di desa mereka. Sementara para laki-laki di desa tersebut, sudah tidak ada yang mau menjabat. Mereka tidak ada yang tertarik untuk menjabat menjadi lurah di desa mereka. Mereka sudah sibuk dengan urusan hidup keluarga masing-masing. Padahal soal hidup juga tidak semata soal makan, minum, dan ibadah saja. Akan tetapi, harus ingat bagaimana makan, minum, dan ibadah itu bisa terwujud. Bukankah makan, minum, dan ibadah akan terwujud jika dicari? Bagaimana mencarinya? Padahal salah satu mencari makan, minum, dan ibadah tersebut juga harus berurusan dengan masyarakat lain, berurusan dengan desa lain, kecamatan, kabupaten, dan negara. Kita akan mendapatkan ketenangan jika makan,minum, dan ibadah itu berjalan lancar. Pertanyaanya bagaimana cara berhubungan dengan masyarakat lain jika tidak ada desa? Padahal desa ada jika ada pemimpinya juga.

Berdasarkan perdebatan tersebut, akhirnya Nyai Selasih terpilih menjadi lurah. Asumsi terhadap perempuan yang selama ini berkembang di desa ternyata salah. Perempuan ternyata bisa membangun desa, perempuan ternyata bisa memimpin desa, perempuan pula bisa memajukan desa. Pemerintahan yang dilakukan oleh Nyai Selasih nyatanya tidak ada yang salah, persoalan ekonomi di desa tersebut semakin berkembang pesat, persoalan pendidikan di desa tersebut juga semakin maju bahkan sekolah yang semula dibangun dan dimiliki secara swasta tersebut kini menjadi negeri atas usaha yang tidak kenal lelah mengajukan ke kementrian pusat.

Nyai Selasih sebagai contoh lurah perempuan yang maju. Ia sebagai contoh perempuan yang bereksistensi dan peduli terhadap kaumnya. Ia  pun terlahir sebagai sosok Kartini masa kini. Kita sebagai perempuan juga harus bereksistensi sebagai kaum perempuan,  sebagaimana perjuangan yang telah dilakukan oleh RA Kartini, kita sebagai kaumnya juga harus melanjutkan perjuangan RA Kartini untuk ikut serta di dalam mengisi kemerdekaan ini dan  melanjutkan cita-cita bangsa.


Selesai ......


0 komentar:

Posting Komentar