Ketika
sejak zaman negeri ini berupa tanah jajahan
Ketika
tanah ini berwujud kerajaan
Sampai
negeri ini berada pada tanah keprisedan
Ketimpangan
gender masih menggerayangi seantero negeri hingga kini
Tembok
besar masih memisahkan jurang perbedaan
Para
perempuan masih dijembatani oleh budaya patriakat
Di kondisi
itu pula selalu muncul tokoh perempuan sebagai pejuang perempuan
Lirik lagu
ini mengingatkanku pada sosok pejuang itu:
Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum
namanya
Ibu kita Kartini,
pendekar bangsa
Pendekar kaumn
Putri yang mulia
Sungguh besar
cita-citanya
Bagi Indonesia
Ibu kita Kartini,
putri Jauhari
Putri yang berjasa
seindonesia
Wahai Ibu Kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar
cita-citanya bagi Indonesia
Pandangilah
lirik lagu itu, lirik lagu tentang apakah itu? Pasti semua tahu bahwa lirik
lagu tersebut adalah tentang RA Kartini. Siapakah Ra Kartini? Pasti di dalam
benakmu mengenali sosoknya. Banyak orang yang mengagumi sosok Ra Kartini. Ra
Kartini dikenal sebagai perempuan yang telah melakukan emansipasi guna
cita-cita bangsa di seantero negeri tercinta ini. Ia telah memperjuangkan
perempuan untuk bersekolah. Ia telah memperjuangkan perempuan untuk bekerja.
Kartini merupakan pejuang kaum wanita yang
memperjuangkan kaum nya. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus
dia mampu mengubah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Penderitaan perempuan
Jawa yang dunianya sebatas tembok rumah dan bersedia dimadu kini bisa bebas
untuk berpartisipasi di segala bidang.
Tetapi
seperti apakah wajah Raden Ajeng Kartini di matamu? Mungkin engkau akan
mellintasi sedikit album foto perempuan muda di buku sejarah. Seperti apakah ia
di dalam album foto itu? Ia adalah perempuan cantik dengan wajah usia 25
tahunan, mengenakan kebaya Jawa, dan rambut berkonde. Benar ia adalah sosok RA
Kartini. Namun, bagiku sosok RA Kartini tidak terlintas pada sosok perempuan di
buku sejarah semata, sebab di era zaman sekarang pun sebenarmya ketimpangan
terhadap kaum perempuan, diskriminasi terhadap wanita masih ada sehingga sosok
RA Kartini masih dibutuhkan dalam melawan segala intrik-intrik ketimpangan bagi
kaum perempuan. Bagiku sosok RA Kartini juga nampak di wajah seorang perempuan, ia bernama Nyai Selasih.
Siapakah Nyai Selasih? Perempuan,
wanita, gadis, istri, putri, ataukah seorang raden ajeng. Jika perempuan,
perempuan seperti apakah dia sehingga dia di beri gelar perempuan? Jika wanita,
wanita seperti apakah dia sehingga kelak ia akan mengubah gelar wanitanya
menjadi perempuan? Jika ia gadis mengapa ia sebut dia seorang istri? Jika ia
putri, putri siapakah dia sehingga ia lahir dengan pemikiran yang begitu hebatnya
khususnya kaum perempuan? Jika ia istri, istri siapakah dia sehingga perlu
melakukan emansipasinya sebagai sosok perempuan? Dan jika ia seorang Raden
Ajeng, putri kalangan darah biru siapakah sehingga pada jaman sudah moderen
seperti ini masih menggunakan gelar Raden Ajeng? Sebenarnya, dia bukan
siapa-siapa, ia bukan sosok perempuan yang mempunyai pangkat, derajat, dan
wibawa yang tinggi. Ia juga bukan keturunan Raja, maupun Adipati. Ia hanya
seorang perempuan desa, Ia memang masih mempunyai gelar Raden Ajeng, namun
gelar Raden Ajeng yang dimilikinya bukanlah Raden Ajeng yang menunjukkan
keturunan kerajaan maupun keturunan keraton. Melainkan Raden Ajeng yang
dimilikinya karena Ia merupakan keturunan pangeran pendiri desa tempat yang ia
tinggali atau Bubak Sembung
Senggani. Pangeran itu sangat disegani
sehingga gelar Raden Ajeng masih melekat di diri sosok Nyai Selasih.
Kini, Nyai
Selasih merupakan sosok warga biasa yang ada di desa itu, sebab ia adalah
keturunan terakhir dari keluarganya sebagai sosok keturunan lurah. Ia terlahir
sebagai sosok wanita sehingga menurut tradisi desa wanita tidak boleh menjadi
kepala desa, wanita itu hanya mengurusi sumur dan dapur. Untuk itu, kepala desa
yang dulu di emban secara garis keturunan kini akan berubah mengikuti sistem
pemerintahan yang ada di negara tersebut. Sebenarnya Nyai Selasih setuju-setuju
saja bahwa desanya sudah mulai mengikuti sistem pemerintahan moderen, hanya
saja yang membuat Nyai Selasih tidak setuju adalah alasan para petinggi desa yang memojokanya
dengan alasan kewanitaanya itu. Kini desa sedang berebut menentukan siapakah
kepala desa yang layak berada di kursi pemerintahan. Semua calon kepala desanya
yang akan menjabat adalah kaum laki-laki, tidak ada tempat bagi kaum perempuan
di sana.
“Anda
tahukan Nyai Selasih bahwa anda merupakan keturunan terakhir dari alur
kelurahan selama ini” Kata seorang pejabat desa mengawali pembicaraan.
“Sekalipun demikian, anda terlahir sebagai wanita. Jika anda terlahir sebagai
perempuan, maka tidak bisa menjabat sebagai lurah”.
“Ya saya
mengerti, lakukan saja yang terbaik untuk desa kita tercinta ini” Jawab Nyai
Selasih secara bijak. Sebenarnya, ia sangat kecewa dengan keputusan tersebut.
Ia kecewa bukan karena alasan ia tidak dapat menjabat sebagai lurah, tetapi ia
kecewa karena gelar kewanitaanya telah diacuhkan dan disingkirkan di desa
tersebut sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam mengelola desa tersebut.
“Kenapa
harus begitu Pak Kadus?” Tiba-tiba seorang wanita muda angakat berbicara
“Bukankah Ra Kartini, Megawati, juga wanita, tetapi mereka ikut ambil bagian
dalam urusan pendidikan dan juga pemerintahan, tetapi mengapa Nyai Selasih
tidak bisa? Katanya pemerintahan desa akan mengikuti negara, bukankah negara
juga membiarkan wanita juga ikut andil dalam pemerintahan??”
“Memang
kita akan mengikuti cara baru dalam pemerintahan, yaitu demokrasi. Sekalipun
demikian, kita harus ingat tradisi di tanah kita, semua pemerintahan dari
golongan laki-laki, pendiri tanah kita siapa Raden Bagus Ngabei, ia adalah
laki-laki. Kemudian Lurah pertama siapa? Raden Sumarjo, ia adalah laki-laki.
Atau ayah dari Nyai Selasih sendiri sebagai lurah terakhir kemarin, ia juga
laki-laki. Jadi, tidak ada kisahnya perempuan menjadi lurah. Bukan begitu
Nyai?”
Laki-laki
menunjuk Nyai Selasih sehingga memojokkan dirinya sebagai keturunan lurah dan
sekaligus sebagai golongan wanita. Sebagai keturunan lurah yang dipojokkan,
tidak mungkin ia akan menjaga alur lurahnya terus ditangan keluarganya. Bisa
jadi, para penduduk pikir Nyai Selasih dianggap akan menguasai selamanya alur
lurah di tangan keluarganya. Namun, ia sebagai wanita sebenarnya juga merasa
tersakiti atas kebijakan tersebut, menurutnya tindakan tersebut tidak adil
terhadap golongan wanita.
Sekalipun
demikian, ia harus bertindak sebijaksana mungkin “Menurut para pemerintah desa
yang baik itu mana silakan diambil, saya akan mengikuti keputusan tersebut.
“Nah
bagus, berati anda setuju dengan keputusan kami, bahwa alur lurah yang selama
ini ada di tangan keluarga anda kini harus diserahkan ke desa”. Lanjut
laki-laki itu.
Nyai
Selasih tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi martabat kaum perempuan, ia
hanya mampu menganggukan ke dua kepalanya ke bawah. “Iya Pak”.
Dengan
terpaksa ia menyanggupi permintaan para pejabat pemerintahan di desa itu.
Akhirnya alur perjalan lurah yang selama ini ada di tangan keluarganya, kini
harus diserahkan ke penduduk desa. Nyai Selasih tidak merasa beban menyerahkan
itu kepada penduduk, yang menjadi beban hanyalah martabatnya sebagai perempuan
belum bisa dilindunginya.
***
Mentari
kian melambai tanganya, siang ditinggal embun pagi. Cahaya lazuardi sudah
nampak jelas menghadang mata. Malam itu Nyai Selasih dan suaminya sedang melakukan makan malam sekaligus
bercakap-cakap.
“ Mengapa
harus kata wanita yang menjadi dasar perubahan ini!” kata Selasih pada Suaminya
saat makan malam terjadi.
“Jadi
menurutmu harus kata apa yang cocok untuk menggantikanya, wedokan atau wadon?” Jawab
Suami Nyai Selasih sambil tertawa.
“Bukan
seperti itu, tapi kenapa harus wanita yang menjadi dasar perubahan ini semua.
Pemikiran semacam apakah itu sehingga wanita tidak mempunyai letak di mata
masyarakat, katanya mengikuti pemerintahan moderen, namun cara berpikir mereka
masih tradisional dan kolot, sungguh aku bukanya ingin menempati alur posisi
keluargaku dulu menjadi kepala desa dan memimpin, tetapi cara kolot yang
mengesampingkan para wanita telah menyakitiku karena aku wanita”
“Ya sudah
sabar saja dengan status kewanitaanmu, tidak mudah menempatkan diri sebagai
wanita seperti Kartini itu. Toh, apa pentingnya wanita bereksistensi, wanita
itu baiknya duduk manis di kamar, masak, dan dandan, pekerjaan seperti itu
bukankah pekerjaan yang cocok sebagai wanita, dengan pekerjaan di luar itu
bukankah pikiramu justru menjadi pusing memikirkan politik, sosial dan dunia,
soal uang, soal politik, soal dunia. Jangan sampai kau melupakan aku sebagai suamimu!”
“Benarkah
kau memandang istrimu seperti itu?” Lanjut Nyai Selasih “Bereksistensi bukan
berarti melupakan statusku sebagai istrimu, aku ini bukan artis. Hanya saja aku
ingin status wanita itu tidak dipinggirkan. Kau tak beda seperti mereka mas,
kau meminggirkan aku sebagai perempuan!”
“Jangan
terlalu sensitif, bukankah benar pernyataanku, tidak usah melakukan sesuatu di
batas kemampuanmu sayang!”
“Menurutmu
aku atau perempuan itu tidak bisa apa-apa mas?” Nyai Selasih menggerutu.
Pernyataan suami Nyai Sariem tidak
memberikanya jawaban yang bagus untuknya. Pernyataan suaminya justru membuat
kecambuk di dadanya, ketimpangan terhadap kaum perempuan yang masih berada di
lingkup masyarakat dan keluarganya telah memojokkan kaum perempuan. Di sini ada
pertanyaan besar yang selalu mengintai hatinya, apakah salah seorang wanita
duduk di panggung politik, apakah salah seorang wanita berurusan dengan
pemerintahan, apakah salah seorang wanita berurusan dengan dunia sosial,
dan apakah salah wanita berurusan dengan
dunia? Jika salah di mana letak
kesalahanya tersebut, ini tidak bisa diterima jika alasanya karena wanita itu
cocoknya di sumur maupun di dapur.
RA Kartini di usia muda sudah memperjuangkan
status kaum perempuan untuk berkembang dan beremansipasipasi, perempuan tidak
dibiarkan untuk tidak bekerja, perempuan tidak dibiarkan untuk tidak sekolah.
Maka akupun tidak pula membiarkan
perjuangannya sebagai kaum perempuan sia-sia. Tidak peduli apa kata suamiku,
tidak peduli apa kata para kaum laki-laki di sini, tidak peduli pula apa kata
dunia, satu kepedulianku mereka (kaum perempuan) harus dipedulikan untuk
berperan aktif di masyarakat, politik, dan dunia. Perempan tidak selamanya akan
bersembunyi di balik tembok-tembok besar, jika selamanya tidak melakukan
apa-apa di sebalik tembok itu. Perempuan tidak selamanya hanya berkutat dengan
urusan dapur dan sumur. Akan tetapi, perempuan sekali lagi harus mempunyai
kontribusi besar di dalam masyarakat ini. Bukankah di sebalik Pak Presiden ada
Ibu Presiden? Bukankah di sebalik Pak Lurah ada Ibu Lurah? Bukankah di sebalik
Pak RT ada Ibu RT? Lalu apakah hanya embel-embel Ibu saja yang melekat di
sebalik kata Ibu, semestinya itu tidak sebatas embel-embel saja. Karena
sebenarnya, ada hak dan kewajiban para ibu yang berperan di dalamnya. Entah Ibu
Presiden, Ibu Lurah, ataupun Ibu RT akan berperan aktif di dalam masyarakat,
mereka seharusnya mengayomi para wanita di negeri ini, mereka sebaiknya menjaga
dan membimbing para perempuan di negeri tercinta ini.
Pesta politik di desa ini semakin
ramai, mereka mengadakan perang politik dengan ceramah dan demonstrasi janjian
yang belum jua terwujud. Mereka masih memberikan janji-janji politik yang masih
di angan-angan. Entah terwujud ataukah hanya sebatas iming-iming saja kepada
masyarakat desa. Di lain pihak, ada yang memberikan seperangkat
bantuan berupa kursi, meja, lemari di beberapa tempat ibadah di desa ini,
apakah maksudnya? Apakah mereka benar-benar peduli dengan warga? Apakah mereka
bermaksud untuk menyuap para warga? Namun, semua tidak memberikan jawaban bahwa
mereka adalah calon-calon lurah yang baik di desa ini, sebab kepediulian
terhadap warga desa sendiri belum juga terlihat. Kepedulian mereka hanya
terletak pada kursi pemerintahan saja. Kepedulian mereka terletak pada jabatan
semata? Kepedulian mereka terletak pada kepemimpinan semata. Padahal lihat saja
di desa ini, masih banyak yang harus diperhatikan para remaja putri masih
banyak menganggur, para istri masih sibuk dengan urusan dapurnya semata, dan
para anak-anak masih banyak yang tidak bersekolah. Mungkin mereka tidak menjadi
dasar kepedulian mereka, atau status mereka teracuhkan di lingkungan ini.
Lantas, bagaimana nasib mereka? Apakah nasib mereka akan seperti ini terus?
Beberapa abad kemudian apakah mereka akan dibiarkan seperti ini? Bagaimana
nasib penerus bangsa yang sudah merdeka ini? Apakah akan melahirkan penerus
bangsa yang seperti ini juga. Siapakah yang akan memikirkan, jika bukan kita
sendiri yang akan memikirkan mereka.
Akhirnya
satu keputusan diambil, Nyai Selasih merencaakan sesuatu guna kepedulianya
terhadap warga desa yang masih teracuhkan itu. Ia tidak memperdulikan alur
keluarganya, ia tidak memperdulikan kursi pemerintahan, ia pula tidak
memperdulikan perang politik yang terjadi di desanya. Ia akan lebih peduli pada
nasib para warganya yang masih teracuhkan. Nasib para remaja perempuan yang
mengangur, nasib para istri yang hanya berkutat dengan urusan rumah tangga
saja, dan nasib anak-anak yang tidak bersekolah. Ia harus memikirkan nasib
mereka, tidak akan dibiarkan menjadi bagian warga yang termarginalkan, tidak
akan dibiarkan menjadi warga yang teracuhkan, dan tidak pula akan dibiarkan
menjadi warga-warga yang miskin. Mulai sekarang, ia akan mengusahakan kemajuan
dan kemakmuran warga desa tak terkecuali perempuan
***
Kebetulan Nyai Selasih tinggal di
sebuah desa yang dekat dengan sungai perlintasan. Sungai tersebut sering
digunakan untuk melintas bagi warga desa sebelah sebagai jalur transpotasi,
warga desa di sinipun sering menggunakan sungai tersebut untuk melintas ke desa
sebelah, entah bekerja, bersekolah, maupun sebatas untuk berkunjung. Menurut
Nyai Selasih tempat ini masih perlu dikelola. Ia mengajak para wanita di
desanya untuk mengelola sungai tersebut sebagai salah satu sumber kehidupan.
“Seperti apakah kira-kira
pengelolaan yang dapat kita lakukan Nyai sehingga sungai ini menjadi sumber
kehidupan bagi kita?”
“Sebenarnya itu semacam kegiatan
yang tidak jauh dari keterampilan seorang wanita, tinggal bakat apa yang
dimilikinya sehingga mampu menghasilkan
uang”.
“Memang
apa yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan uang?”
“ Seperti
yang saya katakan tadi itu tergantung bakat apa yang kalian semua miliki,
misalnya Bu Juwita sering saya lihat menanam tanaman cabe berarti bakatnya
adalah menanam cabe, nah cabe tersebut dapat anda jual nanti. Bu Eni, sering
saya lihat membuat rajutan dari benang berarti bakatnya merjaut, nah hasil
rajutan itu kita jual di sini, atau Bu Suminten yang sering membuat keranjang
berarti bakatnya membuat keranjang sehingga anda juga bisa menjualnya di sini”.
“Jadi,
maksudnya ingin berjualan di sini, bukankah ini tempat perlintasan Nyai?”
“Justru
itu, karena ini tempat perlintasan maka tempat ini sangat strategis guna
menghasilkan uang dari semua perdagangan yang akan anda jual nanti, sebab
banyak warga kita maupun warga sebelah yang datang dan pergi melintasi sungai
ini. Dengan begitu, mereka akan melihat dan berniat membeli barang dagangan
kita semua nanti”.
“Tapi
Nyai, di mana kita akan berjualan, sebab bukankah di pinggiran sungai ini tidak
ada lahan lagi untuk berjualan. Lahan ini sudah sangat sempit Nyai.”
“Lihatlah
sungai itu”. Nyai Selasih menunjuk ke hamparan sungai yang Luas. Jernihnya air
bagai cermin kehidupan, begitu luas dan begitu indah. Masih banyak hamparan
sungai yang tidak terpakai untuk mendirikan sebuah pasar “Bukankah sungai ini
luas sekali, sementara perlintasan jalan hanya menggunakan bagian tengah sungai
ini”
“Saya
tidak mengerti”. Kata seorang ibu menggelengkan kepala.
“Kita akan
membuat pasar di atas sungai, itu akan menguntungkan kita dalam proses
perdagangan kelak” Jelas Nyai Selasih.
***
Hari
berikutnya, Nyai Selasih bersama-sama remaja putri dan para istri mendirikian
sebuah pasar di sungai tersebut atas bantuan para warga lain. Kali ini, mereka
mau membantu dalam kegiatan para perempuan. Menurut mereka kegiatan perdagangan
memang kegiatan yang cocok untuk kaum perempuan. Paling tidak ada kegitan bagi
kaum perempuan, tetapi tidak menguras tenaga mereka sehingga tidak meninggalkan
kewajiban mereka sebagai seorang istri. Di sisi lain, masih ada yang memandang
sebelah mata kegiatan kaum perempuan ini,. Menurut mereka kegiatan ini semacam
kegiatan yang hanya membuang waktu saja, sebab tidak akan ada hasil apapun.
“Apa pula
kegiatan semacam ini perlu dilakukan, kau ini sebaiknya mengurusi cucianku,
makanku, dan rumahku?” Kata seseorang suami sinis pada istrinya.
“ Kenapa
harus kata ku bukan kita mas?” Sindir Istrinya
“Kegitana
semacam ini kegiatan yang tidak cocok, kau sebaliknya di rumah saja, toh apa
yang akan kau lakukan tidak akan menghasilkan apa-apa”.
“Maksudnya
apa?”
“Kau ini
bodoh, kau ini tidak pernah mengenyam pendidikan apapun, apa lagi soal
perdagangan, kau hanya membuang waktumu saja”.
Nyai
Selasih yang mendengar pembicaraan itu hanya mengelus dada. Ia yakin bahwa apa
yang akan dilakukanya kelak menghasilkan pendapatan untuk membantu kehidupan
keluarga sehingga di dalam keluarga tidak ada istilah ku melainkan
kita. Benar, suatu usaha tidak ada yang sia-sia, usaha apapun itu jika
dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan hasil yang maksimal. Usaha yang dilakukan Nyai Selasih bersama
perempuan-perempuan dan para istri di desa itu menghasilkan pendapatan yang
luar biasa. Pasar yang mereka dirikan menjadi pasar yang ramai. Pasar yang
mereka dirikan menjadi pasar hiburan. Setiap warga yang melintas paling tidak
sering mampir untuk sekadar makan maupun belanja barang-barang yang dijual para pedagang
di pasar itu. Akhirnya, sebagian para suami mereka menyadari bahwa para istri
mereka adalah perempuan-perempuan perkasa yang layak diberi tempat di desa
maupun keluarga. Karena mereka bisa
membantu ekonomi warga sekitar dan ekonomi keluarga.
Pendapatan
besar yang mereka hasilkanpun bisa mereka sisakan untuk mendirikan sebuah
sekolahan. Mereka tahu masih banyak anak-anak di desa itu yang tidak sekolah,
tidak hanya kemiskinan tetapi juga karena letak sekolahan itu terlalu jauh bagi
anak-anak untuk jauh dari keluarga mereka.
“
Syukurlah akhirnya, kita bisa mengumpulkan uang untuk mendirikan sekolah untuk
anak-anak di warga desa kita ini.” kata seorang ibu pada kawanya.
“Benar,
tapi apa yang bisa kita lakukan dalam mendirikan sekolahan, lahan mana yang
bisa kita manfaatkan untuk mendirikan sekolah dan siapakah guru-guru yang akan
mendidik anak-anak itu”. Kata ibu satunya, dengan pertanyaan panjang.
Ibu
satunya hanya menggelengkan kepala. “Entahlah bagaimana caranya?”
Kedua ibu
tersebut berdiri kaku, mereka kemudian memburu Nyai Selasih yang baru saja
datang, Nyai Selasih langsung sergap dengan pertnayaan-pertanyaan itu.
“Seperti
yang engkau katakan Nyai, sebagian uang kita akan kita gunakan untuk mendirikan
sebuah sekolahan, sebab masih banyak anak-anak di desa kita yang tidak sekolah,
tidak hanya kemiskinan tetapi juga karena letak sekolahan itu terlalu jauh bagi
anak-anak untuk jauh dari keluarga mereka. Sementara itu, lahan mana yang akan
kita dirikan untuk sekolahan? Lalu, apakah uang kita cukup untuk mendirikan
sekolahan? Nanti kalau sekolahan sudah berdiri, siapa guru yang akan
mengajarnya Nyai? Apakah Nyai? apakah kita, saya saja tidak pernah mengenyam
sekolahan Nyai. Apalagi sekarang ini, saya sudah terlalu mencintai dunia
perdagangan Nyai. Tidak mungkin saya akan meninggalkan itu”
Nyai
Selasih tersenyum, “Tenang semua pertanyaan itu akan teratasi.
“Caranya?”
“Masalah
lahan, saya sudah berembug dengan suami saya sehingga lahan sawah saya yang
terletak di sebelah rumah Bu Pariyem itu digunakan untuk mendirikan sekolahan
bu, dengan uang sumbangan kita, saya pikir akan cukup untuk biaya bangunanya”.
“ Gurunya
Bu?”
“Saya tahu
keterbatasan kita, tidak mungkin akan menjadi guru-guru para murid kelak.
Materi pendidikan sekarang ini semakin sulit. Tidak hanya huruf abc atau angka
123 saja. Bahkan bisa jadi pula para murid itu lebih cerdas dari pada kita”.
“Lantas?”
“Di tetangga
sebelah ada seorang mahasiswa pendidikan dasar di salah satu universitas di
kota ini, saya sudah mengajak berbicara tentang rencana kita, katanya dia dan
teman-temanya bisa membantu dalam mengajar anak-anak nanti. Mereka bisa menjadi
guru dari murid-murid kelak. Selain itu,
mereka sebagai mahasiswa pendidikan juga butuh tempat untuk berwiyata bakti?”
“Ada lagi
yang menjadi soal Nyai bagaimana persoalan tentang instansinya, bukankah untuk
mendirikan sebuah sekolah perlu perizinan juga?”
“Soal itu,
biar suami saya yang mengurusnya. Diakan pekerja kecamatan pasti tahulah
bagaimana caranya. Dia banyak relasi di pemerintahan pusat sana sehingga ia
pasti bisa mencari cara dalam mengurus kekhawatiran kita ini?”
Tiga bulan
kemudian, sekolah itupun akhirnya sudah bisa ditempati. Banyak anak-anak yang
mendaftar mengikuti kegiatan persekolahan di tempat itu. Desa yang dahulu sepi
kini menjadi ramai, ramai pasarnya dan ramai pula anak-anak bersekolah. Semua
itu berkat Nyai Selasih. Ia telah memperjuangkan warna desa itu, selain
memperdulikan emansipasi wanita ia juga memperdulikan kemajuan warga desa
sendiri, ekonomi meningkat dan juga kesadaran pendidikan juga sangat meningkat
pula.
***
Pesta
pemilu yang dulu ramai di desa itu, telah menentukan bahwa Pak Amir menjadi
kepala desa. Ia adalah pembisnis kayu di desa ini. Namun, ia menjadi lurah
hanya sebatas karena ia punya uang. ia menjadi lurah hanya sebatas karena ia
punya harta. ia menjadi lurah hanya sebatas karena ia punya kekayaan. Namun, Ia tidak bisa memberikan kemakmuran terhadap
warga desanya, para rakyat berpikir ia tidak bisa memimpin rakyatnya. Akhirnya,
dua bulan menjadi lurah Pak Amir mengundurkan diri. Kini desa mengalami
kekosongan pemerintahan. Kini desa tak ada pemerintahanya. Rencananya desa akan
mengadakan pemilihan untuk kedua kalinya. Kali ini, Nyai Selasih diminta untuk
mengajukan diri sebagai lurah. Namun, sekali lagi banyak yang menentangnya
sebagai lurah karena ia wanita. Wanita sekali lagi mengalami batasan sebagai
lurah. Wanita itu maknanya wani di tata, jadi pekerjaanya di bawah kekuasaan
laki-laki. Ia tidak pantas untuk memimpin, ia tidak pantas berpolitik, ia tidak
pantas mengurusi urusan di luar konteks keluarga.
“Kenapa
sekali lagi alasan itu adalah wanita, apakah wanita di persepsi mereka adalah
sosok yang rendah?” kata Nyai Selasih mengerutu
“Karena
wanita itu hiasan”.Godaa suami Nyai Selasih.
“Beraninya
kau mengatakan seperti itu pada ku, aku ini istrimu mas, akupunya hati”.
“Kau
selalu marah jika aku goda”.
“Godaanmu
itu tidak lucu mas, kau selalu melontarkan kata-kata yang terlalu menyakitiku”.
“Iya,
sebenarnya aku sadar. Semua persepsiku tentang wanita yang kolot itu salah”.
“Jadi?”
Nyai Selasih tersenyum menang.
“Jadi kau
adalah perempuanku. Sebenarnya, kau adalah perempuan yang hebat. Kau
mengalahkan semua peran laki-laki di sini untuk membangun desa menjadi desa
yang seperti ini. Aku cukup bangga dengan dirimu istriku. Sekalipun demikian,
kau tidak boleh mencemooh para warga yang menentangmu untuk duduk di kursi
pemerintahan. Nanti mereka pikir, kau akan menguasai alur keluargamu”.
“Aku tahu
itu mas, hanya saja sekali lagi penggunaan istilah karena wanita itu membuatku
sakit hati. Akankah kamu, menyetujui persepsi orang-orang itu. Andai anak kita
perempuan semua kelak, mungkinkah mereka hanya akan kita jadikan istri-istri
yang tak berpendidikan. Akankah mereka hanya akan kita jadikan
perempuan-perempuan yang berkutat dengan urusan sumur dan dapur semata”.
“Tentu
saja tidak, tetapi sekali lagi kau tidak boleh menunjukkan sikap ketidaksukaanmu
pada sikap mereka. Nanti mereka pikir, kau tidak merelakan kursi pemerintahan
itu atau mungkin mereka pikir kursi itu akan dikuasai keluargamu saja. Kecuali,
jika seluruh warga di desa ini menginginkan dirimu untuk menjabat menjadi
kepala desa ini, sebab kau mampu mengembannya, mampu membangun warga desa
menjadi maju dan berkembang”.
Kali ini
pernyataan suami Nyai Selasih sangat bijak. Kalimatnya tidak membuat Nyai
Selasih menggerutu dan marah. Nyai Selasih memang menginginkan untuk menjadi seorang
lurah, sebab lurah merupakan cita-citanya sejak kecil, ia ingin seperti ayahnya
membangun desa ini menjadi desa maju. Namun, teringat kata-kata sang suami, ia
tidak akan mencalonkan diri sebagai lurah, ia tidak ingin warga desa pikir ia
menggilai kursi pemerintahan. ia tidak ingin warga desa pikir kursi itu akan dikuasai keluargaku saja,
tetapi ia akan menjabat jika seluruh warga di desa ini menginginkan diriku
untuk menjabat menjadi kepala desa ini.
***
Hari ini,
usai subuh Nyai Selasih memandang petala langit yang begitu cerah. Seperti akan
memandang sebuah keberuntungan yang akan menyelimuti dirinya, namun
keberuntungan semacam apakah yang akan menyelimuti dirinya itu? Entahlah itu
baru semacam pikiran yang masih ada di dalam
angan-angan saja.
Siang ini,
pemilihan kepalla desa sedang dimulai, Nyai Selasih tidak diizinkan untuk
mencalonkan diri sebab Nyai Selasih berstatus perempuan. Sementara itu, calon
yang diajukan hanya satu, yaitu Pak Korimen. Ia mantan kaur keuangan di desa
tersebut. Untuk itu, tidak terjadi pencoblosan terhadap calon yang akan
dipilih.
Namun,
pemilihan tersebut tiba-tiba terjadi keributan di luar kantor kepala desa
tempat pemilihan umum terjadi. Banyak kendaraan bermotor berkeliaran, para kaum
laki-laki sedang sibuk melakukan persiapan penyambutan terhadap Pak Korimen
sehingga mereka tidak sempat melihat keributan terjadi.
“Ada apa
ini anda semua datang melakukan keributan, di sini sedang terjadi persiapan
penyambutan terhadap kepala desa yang baru!” Kata Nyai Selasih yang kebetulan
ada di luar tempat kejadian.
“Kami
harap Pak Korimen tidak jadi lurah, kami harap Pak Korimen dipecat jadi kaur!”
Teriak seorang laki-laki yang melakukan keributan itu “Kami tidak ingin
mendapatkan seorang lurah yang korupsi dan kolusi, apakah sampean mau
mendapatkan lurah semacam itu?
“Maksudnya
apa ini, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa anda-anda semua datang marah-marah
dan membahas soal korupsi? Siapa yang korupsi dan apa pula yang dikorupsi? Nyai
Selasih tidak mengerti
“Ya Pak
Korimen si Calon Lurah, masak saya! Pak Korimen itu sudah banyak melakukan
kesalahan sebagai kaur keuangan, uang air, uang listrik semua dikorupsi, dan
ketika mau jadi kaur saja dia sudah kolusi kok!”
“Baiklah
lebih jelasnya kita masuk ke dalam saja, saya takut kalau ada wartawan yang
melihat dan meliput!”
“Kenapa
harus takut dengan wartawan kalau memang salah?”
“Jangan
anda pandang dalam satu segi saja, lihat desa ini. Bukankah anda juga pemilik
desa juga?”
Sejenak
mereka merenung “Benar juga kata Nyai Selasih”.
Akhirnya,
merekapun masuk ke dalam kantor balai desa. Mereka memasuki ruangan tempat yang
awalnya dijadikan untuk persiapan. Kini ruangan yang awalnya digunakan untuk
penyambutan telah menjadi ruang yang sesak dengan keributan para pendemontrasi.
Mereka melakukan demonstrasi terhadap Pak Korimen. Mereka membahas persoalan
Pak Korimen yang melakukan banyak korupsi dan kolusi tersebut. Mereka
marah-marah atas tindakan Pak Korimen, mereka tidak pula menyetujui pencalonan
lurah yang diajukan oleh Pak Korimen. Para pejabat kelurahanpun pada akhirnya
melakukan kebijakan atas tindakan Pak Korimen. Mereka mencari bukti atas segala
asumsi masyarakat atas korupsi dan kolusi yang dilakukanya. Ternyata benar, Pak
Korimen telah banyak melakukan korupsi dan kolusi di desa. Berdasarkan bukti
yang ada, Para Pejabat pemerintahan melakukan pencabutan atas pencalonan lurah
yang dilakukan Pak Korimen. Mereka pun melaporkan tindakan kejahatan yang telah
dilakukan oleh Pak Korimen ke kantor polisi sehingga Pak Korimen pun harus
berurusan dengan polisi.
Atas
kejadian itu, desa belum juga mendapatkan seorang kepala desa. Para Kaum
perempuan kembali mengajukan Nyai Selasih menjadi lurah, namun kembali lagi
para kaum laki-laki tidak menyetujui tentang pengajuan perempuan sebagai lurah.
Kali ini, Bu Suminten sebagai Ibu RT bertindak atas asumsi masyarakat yang
salah terhadap kaum perempuan yang dilarang untuk berpartisipasi di masyarakat.
“Apakah
benar kita akan selamanya seperti ini, kemajuan apakah yang akan dialami
masyarakat jika mengacuhkan kaum perempuan, dari dulu desa kita mengacuhkan
para kaum perempuan, sebenarnya tidak ada kemajuan yang dialami justru
kemunduran yang dialami”.
“Tradisi
kita sudah begitu”. Tiba-tiba seorang
laki-laki ikut berbicara. “Dari dulu desa kita tidak pernah mengajukan
seorang perempuan menjadi lurah, nanti dunianya menjadi porak poranda”.
“Tradisi
yang mana? Porak poranda seperti apakah? Tidak semua tradisi itu selamanya
benar! Tidak selamanya pemimpin perempuan itu salah, dan tidak selamanya pula
laki-laki itu benar. Lihat saja, calon-calon lurah yang baru-baru ini
bermasalah semua, entah yang satu tidak memimpin, entah yang satu korupsi”
“Itu kan
tidak semua”.
“Sekalipun
demikian tidak salah kan kita nencoba perempuan jadi lurah, ia sudah banyak
membantu para perempuan di desa kita dengan segala pemikiranya dibandikan
calon-calon kepala desa yang anda ajukan itu?”.
“Desa kita
tidak perempuan semua bu, sementara apa yang diajukan oleh Nyai itu berdasarkan
kebutuhan perempuan semata”
“Ada benar
dan ada salahnya. Kebenarnya para perempuan selama ini diacuhkan sebab itulah
Nyai Selasih mempunyai gagasan semacam itu. Kesalahanya, bahwa pemikiran Nyai
Selasih bukan soal kita saja (kaum perempuan), tetapi anak-anak juga diurusi
dalam bidang pendidikanya. Padahal anak-anak itu adalah harta kita, selama ini
mereka dibiarkan mengacuhkan pendidikanya”.
“Benar...
bukankah dengan kemajuan ekonomi yang diajukan Nyai Selasih sangat membantu
bukan persoalan uang saja, tetapi pendidikan juga, di sini ia mempunyai peran
yang amat besar”. Lanjut seorang ibu yang lain.
“Semua itu
kami juga dapat melakukanya”. Kata laki-laki itu membela “Jika hanya membuat
pasar untuk kalian, jika hanya membuat sekolahan untuk kalian kami bisa”.
“Kata bisa
saja tidak cukup”. Lanjut Bu Suminten. “Jika hanya berkata bisa kamipun juga
dapat mengatakanya, bisa membuat desa sendiri, bisa membuat kecamatan sendiri,
bahkan membuat negara sendiri, tetapi kita itu nyata pak jadi tidak cukup
dengan kata bisa saja, namun wujudnya itu yang mestinya harus ada Pak”
Laki-laki
itu kalah berdebat...
Pejabat
desa kini sedang berbicara sendiri-sendiri, mereka memikirkan siapa yang cocok
untuk dijadikan lurah di desa mereka. Sementara para laki-laki di desa
tersebut, sudah tidak ada yang mau menjabat. Mereka tidak ada yang tertarik
untuk menjabat menjadi lurah di desa mereka. Mereka sudah sibuk dengan urusan
hidup keluarga masing-masing. Padahal soal hidup juga tidak semata soal makan,
minum, dan ibadah saja. Akan tetapi, harus ingat bagaimana makan, minum, dan
ibadah itu bisa terwujud. Bukankah makan, minum, dan ibadah akan terwujud jika
dicari? Bagaimana mencarinya? Padahal salah satu mencari makan, minum, dan
ibadah tersebut juga harus berurusan dengan masyarakat lain, berurusan dengan
desa lain, kecamatan, kabupaten, dan negara. Kita akan mendapatkan ketenangan
jika makan,minum, dan ibadah itu berjalan lancar. Pertanyaanya bagaimana cara berhubungan
dengan masyarakat lain jika tidak ada desa? Padahal desa ada jika ada
pemimpinya juga.
Berdasarkan
perdebatan tersebut, akhirnya Nyai Selasih terpilih menjadi lurah. Asumsi
terhadap perempuan yang selama ini berkembang di desa ternyata salah. Perempuan
ternyata bisa membangun desa, perempuan ternyata bisa memimpin desa, perempuan
pula bisa memajukan desa. Pemerintahan yang dilakukan oleh Nyai Selasih
nyatanya tidak ada yang salah, persoalan ekonomi di desa tersebut semakin
berkembang pesat, persoalan pendidikan di desa tersebut juga semakin maju
bahkan sekolah yang semula dibangun dan dimiliki secara swasta tersebut kini
menjadi negeri atas usaha yang tidak kenal lelah mengajukan ke kementrian
pusat.
Nyai
Selasih sebagai contoh lurah perempuan yang maju. Ia sebagai contoh perempuan
yang bereksistensi dan peduli terhadap kaumnya. Ia pun terlahir sebagai sosok Kartini masa kini.
Kita sebagai perempuan juga harus bereksistensi sebagai kaum perempuan, sebagaimana perjuangan yang telah dilakukan
oleh RA Kartini, kita sebagai kaumnya juga harus melanjutkan perjuangan RA
Kartini untuk ikut serta di dalam mengisi kemerdekaan ini dan melanjutkan cita-cita bangsa.
Selesai
......
0 komentar:
Posting Komentar